Gelanggang Jakarta – Jakarta Selatan – Kasus temuan hampir seribu pucuk senjata api di sebuah sekolah swasta di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan terus menjadi sorotan publik, dengan anggota DPR RI mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus menggemparkan ini.
Sekolah swasta di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara penuh selama satu pekan yang berakhir hari ini, Jumat (14/8/2026). Kebijakan ini diambil menyusul temuan mengejutkan sebanyak 995 pucuk senjata, amunisi, aksesori senjata, alat pembuat peluru, VCD porno, serta barang yang diduga narkotika jenis sabu dan ganja di ruangan bekas Kepala Yayasan berinisial IWD.
Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni meminta Polri, BIN, dan instansi terkait mengusut tuntas temuan ini. Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin juga menyatakan bahwa kepemilikan senjata sebanyak itu mengindikasikan adanya prosedur yang diduga telah dilanggar, karena tidak mungkin seseorang secara sah memiliki senjata dalam jumlah sebesar itu. Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani turut mendesak aparat mengusut tuntas kasus ini demi memberikan kepastian hukum sekaligus menjamin keamanan lingkungan pendidikan.
Kronologi kasus ini bermula saat pihak sekolah membuka ruangan yang terkunci sejak April 2026 untuk kebutuhan operasional guru. Dalam ruangan tersebut ditemukan 995 pucuk senjata yang terdiri atas empat pucuk senapan angin kaliber 4,5 milimeter, 215 pucuk pistol angin kaliber 4,5 milimeter, dan 776 pucuk revolver angin kaliber 4,5 milimeter. Polisi menerima laporan dari masyarakat perihal temuan tersebut pada 15 Juli 2026, dan kemudian melakukan penggeledahan lanjutan pada 5-6 Agustus 2026.
Polres Metro Jakarta Selatan telah meminta keterangan dari sejumlah saksi untuk menelusuri tindak lanjut temuan tersebut. Kepolisian juga mengidentifikasi pelaku yang masuk atau pernah berkontak dengan ruangan yang diduga menjadi tempat penyimpanan senjata melalui sampel tes DNA. Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Selatan Santoso menegaskan tidak ada ekstrakurikuler menembak di sekolah tersebut, sementara sekolah memiliki ratusan siswa yakni 356 siswa SD, 66 siswa SMP, dan 60 siswa SMA.
