Gelanggang Jakarta – Jakarta – Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan Jumat pagi (4/9/2026) di level Rp17.628 per dolar AS, ditopang sentimen positif dari pelemahan indeks dolar AS dan ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang lebih akomodatif.
Mata uang Garuda mencatat penguatan sebesar 51 poin atau 0,29 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.679 per dolar AS. Penguatan rupiah ini terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi, dengan yuan China naik 0,02 persen, peso Filipina menguat 0,25 persen, dan dolar Singapura terapresiasi 0,08 persen.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan, penguatan rupiah didukung pelemahan indeks dolar AS atau DXY sebesar 0,69 persen menjadi 98,91. Pelemahan DXY terjadi seiring penurunan imbal hasil obligasi AS, meningkatnya ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih dovish, serta penguatan yen Jepang yang cukup tajam pada perdagangan sebelumnya.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menambahkan, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September 2026 turun menjadi sekitar 48 persen dari sebelumnya 59 persen. Penurunan ekspektasi ini dipicu pernyataan pejabat The Fed Christopher Waller yang cenderung mempertahankan suku bunga jika data inflasi mengonfirmasi berlanjutnya proses disinflasi.
Meski rupiah berpeluang melanjutkan penguatan, ruang apresiasi diperkirakan masih terbatas. Harga minyak Brent yang bertahan di atas USD95 per barel dan ketegangan AS-Iran yang masih berlangsung menjadi faktor pembatas. Pelaku pasar juga menanti rilis data ketenagakerjaan AS atau nonfarm payrolls yang dijadwalkan pada Jumat malam, yang dapat mempengaruhi arah kebijakan moneter The Fed ke depan. Para analis memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
